GERINDRA

GERINDRA
Partai Gerakan Indonesia Raya

Selasa, 31 Desember 2013

Potret Petani Indonesia

Petani sengsara pejabat korupsi itulah potret kehidupan di negara Indonesia tercinta ini. Petani bagai kan mesin negara yang selalu hidup untuk memajukan negaranya, tapi kenapa kehidupan petani di indonesia masih banyak yang belum sejahtera alias miskin?? 
Sedangkan pejabat di indonesia ini kehidupannya bisa dibilang selalu mewah, dan masih banyak para pejabat mementingkan kehidupannya sendiri tanpa mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Bahkan masih banyak para pejabat yang korupsi demi mendapatkan kepuasan duniawi. Meskipun hanya sedikit penjabat negara Indonesia ini yang tidak korupsi atau yang jujur. 
Sangat memprihatikan negara kita ini. 
Para pejabat pemerintah seharusnya bisa memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya (petani) bukan menyengsarakan rakyatnya (petani) sendiri. Tanpa rakyat (petani) sebuah negara tidak akan bisa berkembang dan maju. 
Nah, sekarang para pejabat Negara cobalah kalau mau buka matamu dan lihat kebawah masih banyak rakyat (petani)mu yang hidup dengan kesengsaraan dan kemiskinan jangan pikirkan kesenanganmu sendri ingatlah hukum Allah Swt itu berlaku.

Potret Nelayan Kita

Sebuah aktifitas sehari-sehari para nelayan Bulu, Tuban.
Mencari sesuap nasi dengan menantang badai, menyingkirkan takut berteman bahaya.

Kameramen : Armita Tika
Editor : Hisyam Nur



Potret Puskesmas Indonesia Saat Ini

Pusat Kesehatan Masyarakat (puskesmas) selama ini dianggap tak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan pengobatan, tetapi juga sebagai pusat pencegahan penyakit, khususnya di daerah terpencil. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya puskesmas dilengkapi dengan fasilitas yang memadai.

dr Fikri Suadu, Direktur Eksekutif Indonesian Hospital and Clinic Watch (INHOTCH), dalam diskusi reguler yang diselenggarakan di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta, Senin (30/12/2013), mengungkapkan beberapa data Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) tahun 2011 terkait keberadaan fasilitas di puskesmas.

"Dari total 9.005 puskesmas seluruh Indonesia, 12,7 persen tak punya stetoskop; 13,6 tak punya tensimeter; 6,1 persen tak punya timbangan dewasa; dan bahkan 55 persen tak punya alat imunisasi lengkap," tutur dr Fikri.

Ia sangat menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap pemenuhan kebutuhan infrastruktur di tingkat pelayanan kesehatan. Hal ini pulalah yang kemudian membuat INHOTCH ragu akan keberhasilan BPJS Kesehatan, yang rencananya akan dimulai pada 1 Januari 2014 mendatang.

"17,7 Persen Puskesmas juga belum ada listrik 24 jam. Kalau begini adanya jadi bagaimana BPJS pelayanannya bisa prima? Ini bahaya," terang dr Fikri.

Infrastruktur fasilitas kesehatan, termasuk fasilitas yang ada di puskesmas, menurut dr Fikri menggambarkan masih buruknya kondisi kesehatan di Indonesia. Diharapkan pada periode kepemimpinan selanjutnya, kesehatan bisa lebih diprioritaskan.

"Soalnya ya kan kalau berkaca pada Pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan 'mencerdaskan kehidupan bangsa', mustahil bisa terwujud kalau masyarakatnya sakit-sakitan dan pelayanan kesehatannya belum prima," terang dr Fikri.

(ajg/vit) 

Jujur = Langka di Negeri Ini ?

Langka? jujur itu langka? yup. Langka. Sifat langka yang dimiliki orang Indonesia. Dan kejujuran memang benar-benar langka dalam bidang apapun. Mulai dari hukum, pendidikan hingga hal-hal kecil. Kenapa selogan KPK : Berani Jujur Itu Hebat! , tidak berpengaruh dan mengingatkan? Kalau membahas soal “Jujur” bisa jadi novel kali ya pembahasannya.
Jujur? Kenapa sih kita harus jujur? memang kalau kita nggak jujur itu kenapa dan mengapa?

Jujur memiliki banyak kelebihan dan keuntungan bagi pelaksananya. Jujur adalah jalan yang selalu mulia dihadapan-NYA. Jujur menjadi hal langka dibuktikan dengan banyak hal : Generasi pecontek yang semakin berkembang, koruptor yang kabarnya masih ada terus, sistem perdagangan yang banyak kurang jujurnya, buang sampah sembarangan, Menyerobot antrean, Melanggar aturan lalu lintas? dan masih banyak lagi. Apakah ini yang akan terus terjadi kedepannya untuk Indonesia? kenapa jujur harus menjadi barang langka di Negeri ini? Padahal negeri ini butuh orang-orang jujur untuk menjaga dan mengatur. Jika generasi penerus saja sudah menanam sifat bohong, bagaimana nasib Indonesia kedepannya jika Indonesia kekurangan aset berharga : Anak-anak bangsa yang jujur. Seperti kalimat ini berbicara bahwa : “Anak muda berani jujur? Hebat!” Hebat sih hebat. Tapi jika contek masal saat ujian masih terus berlanjut. Sifat bohong yang terus berkembang bersama waktu yang berjalan ya harus bagaimana? Ada tindakan khusus tidak?

Jujur adalah langkah awal menuju kesejahteraan, kemakmuran, kebahagiaan, kedamaian dan sebagainya. Orang jujur nggak akan pernah rugi! Meski terkadang (dan itu jarang banget) kejujuran kalah dengan kebohongan. Dimata tuhan jujur tetap mulia. Lagian, dengan jujur kita bisa mendapat 3 hal ini loh : Kepercayaan, Cinta dan Rasa hormat (Sayidina Ali) . Menanamkan sifat jujur dalam diri sendiri itu baik. Tapi jaga juga, jangan sampai yang ditanam (kejujuran) landas seketika ketika syetan berbisik. Orang bohong pasti rugi. Kebohongannya akan terungkap seiring kehendak tuhan dan berjalannya waktu. Nggak percaya? buktiin aja!

“Jujur, kadang memang tak selalu dapat dimengerti. Itulah sebabnya mengapa seseorang lebih banyak memilih untuk berbohong” - unknown. Jujur juga butuh perjuangan. Jangan karena hal-hal kecil yang mengajak kita untuk berbohong sekali saja. Maka hal kecil itu adalah bencana. Bencana karena berhasil membuat langkah awal bahwa kita akan terus berbohong untuk menutupi kesalahan sebelumnya.

Disaat pemerintah, pendidik, pengabdi, pelajar dan yang lainnya tak memiliki sifat jujur. Sebagian dari mereka yang sengaja dan membiarkan benih bencana itu muncul keatas adalah kunci dari kerusuhan negara ini. Gimana nggak rusuh. Pemerintah nggak jujur? korupsi? rusuh negara ini. Pendidik ngga jujur? hilanglah emas dan bintang dalam diri anak didiknya. Pengabdi nggak jujur? hancurlah negara ini. Pelajar nggak jujur? hilanglah nyawa negara ini. Masa’ generasi penerus tidak memiliki sifat jujur dalam dirinya? mau dikemanakan jika jantung negara ini (masyarakat) tidak memiliki sifat jujur. Sama saja nyawa negara ini hilang ditelan dunia kebohongan. Jangan sampai.
Negara mau maju, sukses dan gemilang? tinggikan nilai kejujuran dalam diri masing-masing. Jangan takut jika kejujuran ditentang. Yang menentang akan tahu akibatnya nanti.

So, mungkin cukup sekian soal jujurnya. Lestarikan budaya jujur di Indonesia. Jangan sampai puhan seperti flora dan fauna kebanyakan di Negeri ini. Negara kita seharusnya menjadi negara bersih. Yang disalahkan saat indonesia sedang sakit dan berdebu ini siapa? yuk. Junjung kejujuran lebih tinggi lagi. Wujudkan Indonesia bersih dari hal-hal tidak menyenangkan! Dengan jujur kita bisa menghapuskan korupsi! dengan jujur kita bisa saling memahami. Oke! Salam Pena!
Karawang , 14 mei 13
Contact : @Fathia_TS (twitter) / Email : fathiyasyafigah[at]yahoo.co.id

Fadli Zon: Mari Menyongsong Tahun Perubahan

Tahun 2014 adalah momentum perubahan. Nasib rakyat lima tahun mendatang ditentukan pada Pileg dan Pilpres. Kebijakan ekonomi dan politik menjadi sorotan. Apakah tetap mempertahankan sistem ekonomi liberal yang menjerat leher bangsa, atau perubahan menuju ekonomi kerakyatan sesuai nafas konstitusi.
"Perekonomian kita sampai akhir 2013 cukup bahaya. Januari-Oktober 2013, defisit perdagangan minyak mentah mencapai $ 2,8 miliar. Neraca perdagangan yang surplus selama puluhan tahun, pada Januari-Juli 2013 defisit $ 5,65 miliar, padahal pada krisis ekonomi 1997-1998 saja neraca tetap surplus. Utang luar negeri semakin besar, meningkat dari $ 225,3 miliar di 2011, menjadi $ 252,3 miliar di 2012, serta $ 259,9 milyar di akhir September 2013," ujar Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Fadli Zon dalam rilisnya kepada Tribunnews.com, Senin (30/12/2013).

Dijelaskan, menurut Global Food Security Index 2012, Indeks Keamanan Pangan berada di urutan ke-64 dari 105 negara. Jauh di bawah Malaysia (ke-33), Thailand (ke-45), Vietnam (ke-55), Filipina (ke-55). Perburuan rente di balik kebijakan impor pangan masih marak terjadi.

Perbaikan struktur perekonomian, Fadli Zon berharap, harus memperkuat daya tahan agar tak tergantung eksternal dan meningkatkan daya saing. Dengan kekayaan sumber daya alam dan jumlah penduduk besar, Indonesia perlu kepemimpinan kuat dan benar untuk menghadapi tantangan global.

"Saatnya merubah haluan sebelum terlambat. Kita butuh pemimpin baru untuk haluan yang benar agar terwujud Indonesia Raya yang sejahtera, makmur, dan adil. Partai Gerindra bersama rakyat optimis menghela perubahan itu. Selamat Tahun Baru 2014. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi," pungkas Fadli Zon.

http://www.tribunnews.com/nasional/2013/12/30/fadli-zon-mari-menyongsong-tahun-perubahan

Jumat, 27 Desember 2013

Pelantikan Pelatih dan Koordinator Saksi Gerindra

Sahabat, pekan lalu Bapak Prabowo melepas keberangkatan ribuan pelatih dan koordinator saksi Partai Gerakan Indonesia Raya.

Insya Allah, dengan kerja keras dan kerja cerdas para pejuang politik Gerindra, kita mampu amankan seluruh TPS di Pemilu 2014 mendatang dari usaha para Kurawa untuk berbuat curang. Jika saudara terpanggil untuk bergabung, silakan saudara klik www.JaringanGerindra.com.



Kamis, 26 Desember 2013

Prabowo: What guarantees do people want from me?

Prabowo: What guarantees do people want from me?


Why do you feel you are fit to be president?
After 68 years of independence, 32 years under the New Order and 16 years of reformasi, Indonesia seems to be stuck in the wrong system. We have not become a productive nation, but a consumptive one. In fact, we have been neglecting the farmers, who have contributed most to Indonesia. They have been made unwilling to produce. We import our onions, cassava, salted fish, salt, even though two-thirds of our territory covers the sea. This is an insult, shameful. And I want to change this.

Could this system be attributed to the SBY government?
Oh, no. It was already like that during the middle of the New Order. This is the mistake of all of us. But the New Order, which many consider to be bad, banned the export of logs. After the onset of reforms and a free market system, logs were allowed to be exported. Before, all exports of rattan were banned, as well as their processing. All natural resources are now controlled by the elite and foreigners.

You yourself own timber and coal companies.
Yes, that's right. That's because if I'm not involved, all of it will be taken over by foreigners. If I take some over, they will be owned by an Indonesian.


Are you anti-foreigner?
I am not against foreigners. I am a product of a foreign [system] but what I accept from the West is life, liberty and the pursuit of happiness. If white people can own such values why not Indonesians? Why can't we have clean water? Why are people's savings in the banks being channeled out for loans to build malls? And everybody keeps quiet about it. I am not against foreigners. I always tell my staff to learn from foreigners. When I was still active [in the military], I was the only officer who sent many of his staff [to study] overseas.

If you were to become president, what would you do?
The amended Constitution has given the executive branch immense powers. So, if there are cases of taking sides, we must correct that. Take, for example, [the case of] fertilizer. The factories are built with state money, people's money. But each year, the APBN (State Budget) subsidizes fertilizer and its production. But who distributes fertilizer? The private sector. Is that fair? Does that make sense? Those subsidies don't reach the farmers. This is unjust and this applies to all commodities. This is state robbery which benefits only a few people. I think the problem is this neoliberal system, comprising deregulation and privatization.


So, how do you see the role of the private sector?
I'm a practical person. Why can't we emulate those who have succeeded, like Singapore, Malaysia, Thailand, Japan, China and Taiwan? Why aren't we copying Korea Inc, Singapore Inc, Japan Inc? We shouldn't have the private sector, state-owned enterprises and cooperatives compete against each other. We must synergize, but not sacrifice our own strengths.

At the start of the New Order, it was like that. Bung Karno was like that. But the West doesn't like government rule and dominant state-owned companies. In China, who are in front? State-owned enterprises.

How long will it take us to reach that stage?
The fertilizer problem should just be a matter of paperwork by the Trade Minister, right? All products must be channeled through cooperatives. So, that's the kind of taking sides we need. Today, small and medium businesses need bank loans but they must go through the same criteria as the tycoons. How can people who have nothing get credit?

What are your views on corruption?
Corruption is a disease that can destroy the nation. A regime that cannot control corruption will become a failed state. We must cure the source of the problem. By my calculation, Indonesia has 50,000 to 60,000 government officials from the president to the vice president, 35 ministers and deputy ministers, five directors-general, legislators, district chiefs and down to subdistrict chiefs. If their cost of living was to be guaranteed, I am quite optimistic corruption will decline.

Yet a Constitutional Court judge earning a monthly salary of Rp200 million was found accepting bribes.
My meaning is to have a systemic approach. If the bureaucrat's quality of life is raised, violations will become taboo.

What about human rights?
That is very important. Life, liberty and the pursuit of happiness should be, in my view, the principal. The top [priority] should be the right to live. We must look at human rights in a holistic way, not just the way it's interpreted by the West. The most basic right is that every child must have a tenable life, able to eat. Whoever governs, must guarantee that right.

If you become president, will you prioritize solving Munir's murder?
Why only Munir? I think we should improve our legal system and let the law solve the case.

What do you mean?
It must be resolved through legal channels. But how can you raise the Munir case without resolving other cases like Mesuji? Have you taken up the case of farmers who were evicted from their lands?
We have. Tempo has written extensively on the Mesuji case.
Well, that's good.

What is your commitment towards democracy, for example in facing a noisy opposition, a free media and activists?
I find your question quite strange. My commitment to what? What guarantees do people want from me? I have proven my commitment to the UUD (Constitution). If you recall that in 1968, I led 34 battalions. Physically, I was the strongest in Indonesia. I was accused of planning a coup, so I was fired by the President, but I obeyed him without protest. That meant I proved my commitment to the UUD. For me, it's an oath.

So, you will not muzzle the opposition?
Activists and those who regarded me as part of the New Order regime said I was militaristic, fascist, blah blah blah. Today, pro-democracy activists are members of Gerindra, holding significant positions. They are chairmen, candidates [for office] in strategic regions. The son of an OPM (Free Papua Movement) member is part of Gerindra, as well as the son of [late rebel] Kartosoewirjo.


You are firm but your temper is legendary. Is it true you used to smash handphones when you were mad?
In the biographies of CEOs and generals, don't they ever get angry?
Are you saying, it's typical of you?

Look, I used to lead combat units. I called my troops tigers. We trained them to be predators. Imagine if I had been weak. There's a saying: 1,000 tigers led by a goat would all be bleating. (Prabowo repeated his reply during the interview at his home, saying it in an effeminate way that caused his staff to burst out laughing.)

So you are ferocious not because of your military background?
Being a military leader is both easy and hard. The men have weapons. If I misled them, what would happen to them in the jungle? How many leaders lost their subordinates? [That happened] with the Americans in Vietnam. So, in leading an army, we must really lead from the front. In the TNI (Indonesian Military), the troops hate commanders who steal, who are corrupt or who are cowards.

http://en.tempo.co/read/news/2013/10/30/241525731/Prabowo-What-guarantees-do-people-want-from-me

The Vision Thing